New

Minggu, 16 Januari 2011

MULUTMU HARIMAUMU


Istilah ini sering kita dengar sejak kecil. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, diajarkanlah kita berbagai istilah pepatah dengan contoh artinya. Sesungguhnya pepatah banyak manfaat dan maknanya. Paling tidak, untuk sesekali menyentil perilaku kita. Contoh dalam pepatah Mulutmu Harimaumu…. , yang pada dasarnya kita harus menjaga mulut dan tutur kata karena bisa jadi bagaikan harimau galak menerkam balik kepada diri kita sendiri apabila yang keluar dari mulut kita adalah ‘bahasa yang kelewatan’ .

Ciri orang yang bermulut sakit ialah :
1. Tak sadar diri
2. selalu merasa benar dan orang lain salah
3. Sombong dengan apa yng dimiliki, meski yang dimilikinya hanyalah setumpuk kotoran
4. Sukar berteman
5. lebih banyak orang yang mengutuk ketimbang memujinya
6. merasa dirinya yang selalu hebat
7. menganggap orang lain tidak ada apa-apa dimatanya
8. menjadi hinaan orang lain

Pepatah tentang mulut yang lancang ini tak hanya berlaku bagi anak SD yang mempelajarinya. Orang yang sudah cukup berumur sekalipun, seringkali lupa saat mempermainkan tuturannya. Dari hati yang kotor, pikiran yang licik, maka tercetuslah keluar di bibir seakan tak bisa direm lagi dan menjadi suatu kebiasaan buruk.Suatu saat di sebuah perkumpulan pertemanan yang sudah berlangsung tahun-tahunan, menjadi runyam atmosfir pergaulannya. Salah satu di antara teman, anggap saja namanya si Polan, sempat berkata di depan teman-teman yang lain, bahwa si X yang baru saja mengawinkan anak, sebagian dananya ditombok oleh si Polan. Belum lagi ia juga menyebut si Siti anggaplah itu namanya, ikut-ikutan nyatut harga dan biaya pernikahan teman itu. Cerita berlangsung di dalam mobil yang didengar orang lain, juga di luar mobil yang didengar oleh seorang wanita yang kebetulan bermulut comel. Sudah bisa ditebak, cerita beredar ke mana-mana dan sampai pula ke telinga teman yang baru mengawinkan anaknya. Pihak yang digosipi pun terpana. Saya bisa memakluminya. Bagi yang tidak berbuat sama sekali ‘ditomboki’ biaya pestanya oleh si Polan, tentu menganggap cerita ini adalah suatu penghinaan. Ini betul-betul fitnah. Dan, sekali lagi, ini sebuah pelaknatan dari sebuah pergaulan yang sudah dibina beberapa lama. Artinya, pertemanan semacam apa yang sudah berlangsung selama ini?

Belum lagi , si Polan menceritakan lagi bagaimana kekurangan sahabat dekatnya, yang baru saja wafat. Belum lagi tanah yang masih merah itu ditutupi hijaunya rumput, segala aib dan kenistaan sudah diumbar ke mana-mana. Yang lebih parah, sampai pula kepada si comel yang lain, dan fakta dibalik - dan dikatakan yang menceritakan aib si mati adalah orang lain lagi, bukan bermuasal dari mulut si Polan. Nah, bingung nggak tuh??! Lain cerita, ia pun acapkali mencela kelewat hematnya teman kerjanya yang lain , yang gajinya sama besarnya dengannya tapi sungguh pelit untuk membelanjakan uangnya. Sahabatnya ( atau pun teman selingkuhannya? ), memiliki mulut yang tak kalah ember bocornya. Mencela rumah orang, menceritakan hal-hal yang tidak benar yang bernada fitnah, mengejek pesta pernikahan sederhana salah satu temannya, menuduh seseorang menyembunyikan uang hasil korupsinya di rumah temannya, disebarluaskan bagai sedang membacakan dunia dalam berita dari televisi.

Jaga mulut, memang ternyata tak mudah. Lihatlah bagaimana sekarang ini sedang ‘trend’ saling mengejek lawan politik lewat pihak lain, menggiring opini publik untuk sesuatu yang belum tentu kebenarannya, membangkitkan dosa lama setinggi gunung meski belum tentu tak dibumbu-bumbui, semua juga mewarnai suasana yang menjadi panas. Dulu, ada isu RMS ( RAdius Moy Sumarlin), yang seolah-olah mengatakan bahwa hanya orang yang non Islam sajalah yang diprioritaskan untuk memperoleh kemudahan kredit. Sudah menyangkut SARA seperti ini , tentu berbahaya. Untunglah isu itu tak berkembang lebih lanjut. Yang menghembuskannya.., aaah… tetap menjadi off the record bagi media yang memberitakannya pada saat itu.
Mulutmu harimaumu…., mulut yang pedas dari hati yang dengki ludas, tentu akan merusak tatanan pertemanan, dan pada akhirnya akan sungguh berbahaya memakan diri sendiri…
Sayang sekali, ulah semacam ini tetap terjadi pada orang-orang yang sudah berumur, bahkan yang sudah renta sekalipun, yang sudah mengalami ‘nyaris lewat’ karena penyakit…maupun yang sudah pernah mengalami cobaan hidup sekalipun. Kapan orang menjadi jera untuk tidak bermulut seram bagai harimau..?

source http://umum.kompasiana.com/2009/05/27/mulutmu-harimaumu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar